MALANG RAYA, tretan.news – Kota Batu memiliki penjual bakso yang luar biasa. Pekerjaan itu, tidak menghalangi Luhur Suseno, mengabdikan diri di bidang pendidikan. Pemuda 26 tahun tersebut mendirikan sekolah non formal tanpa memungut biaya di Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
’
’Tempat belajar ini saya beri nama Sekolah Alam Sobyor (SAS),’’ ujar Luhur mengawali ceritanya.
Dikatakan, berdirinya SAS bermula dari ide adiknya, Jaduk Danan Jaya. Jaduk adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Malang. Sekolah tersebut, berdiri mulai Maret 2022. Tujuannya, untuk meningkatkan kemampuan kualitas pendidikan anak-anak di dusun tersebut.
Karena, tutur ayah satu putra itu, kualitas pendidikan anak-anak di dusun ini, kalah jauh dengan anak-anak di dusun lainnya. Hal itu disebabkan orang tua dari anak-anak di dusunnya yang sibuk bekerja, Sehingga kurangnya interaksi antara orang tua dengan anak untuk memberikan pendidikan.
Selain itu, karena mendapati keluhan tokoh masyarakat dan wali murid di SDN 05 Tulungrejo, bahwa anak-anak belum memiliki persiapan maksimal untuk menghadapi ujian. Pembelajaran online yang berlangsung lama dituding sebagai sebabnya juga.
Berangkat dari kondisi itu, Luhur bersama Jaduk serta dua orang lainnya membuat konsep pembelajaran yang menyenangkan. Di mana terdapat tiga materi pembelajaran di SAS, yakni lingkungan, budi pekerti hingga pendidikan formal.
Sekarang ini ada 34 anak yang mengikuti pembelajaran di SAS. Berasal dari anak kelas 4, 5 dan 6 SDN 05 Tulungrejo. Kegiatan pembelajaran rutin terlaksana setiap Minggu, pukul 10.00-12.00 WIB.
"Awalnya anak-anak kelas 6 yang ikut, kemudian setiap minggu rutin pertemuan, lancar, terus kita adakan kegiatan untuk kelas 4 dan 5. Mereka belajar Matematika, IPA, Bahasa Inggris, memang belum semuanya, karena masih terbatas," ujar Luhur.
Untuk proses pembelajaran SAS dilakukan Luhur di pendapa rumahnya yang memiliki luas 3 x 6 M2. "Anak-anak yang ikut di sini mereka yang tidak les. Biaya gratis semua ini," tutur Luhur.
Seiring berjalannya waktu, Luhur mendapat dukungan dari berbagai pihak. Diantaranya, akademisi Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM).
Untuk akademisi dari Jurusan Sosiologi FISIP UB mengajak anak bermain bersama melalui permainan tradisional. Sedangkan dari UM memberikan materi pengajaran terkait seksual dasar.
"Seperti bagaimana mengajarkan ke anak-anak batas-batas bagian tubuh yang sensitif tidak boleh disentuh, kemudian bagaimana bila terjadi sesuatu," terang Luhur.
Kegiatan sekolah mendapatkan respons positif dari berbagai pihak. Ibu-ibu dari dusun atau desa lain yang ingin anak-anaknya mengikuti pembelajaran di SAS.
Ke depan, pihaknya akan terus mengembangkan sekolah dengan membuka relawan. Selain itu, pihaknya ingin dapat memfasilitasi seluruh anak-anak dari semua jenjang sekolah. Namun, yang terpenting, pihaknya tidak dapat memberikan jaminan pasti terhadap kualitas anak-anak yang mengikuti kegiatan pembelajaran. Yakni, memiliki nilai akademik yang lebih baik setelah mengikuti pembelajaran disini.
"Namun, yang terpenting bagaimana anak-anak memahami dasar-dasar materi pelajaran formal dan tentang etika kehidupan," pungkas Luhur.
Reporter : tyo
